Kamis, 12 Agustus 2010

Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid’ah Sesat

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahi tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan ”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.
Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Ulûhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Ulûhiyyah.
Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

(Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

(Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهّار (يوسف: 39

”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.
Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

[[“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS. al-An’am: 94).
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!”]].



Sabtu, 07 Agustus 2010

Qana`ah, Pilihan Hidup Mulia

Seseorang yang pandai bersyukur dengan sedikitnya harta, di kemudian hari ia akan lebih “cerdas” bersyukur dengan limpahan harta yang banyak. Rezeqi yang diterima dengan senang hati dan lapang dada, bermuara pada kenikmatan yang tiada terkira. Meski rezeqi tersebut minim, namun karena diterima dengan suka-cita, bakal menjadi nikmat dan kebahagian.Sebaliknya, jika seseorang tiada mempunyai rasa syukur dan terima kasih atas karunia Allah kepada dirinya, sampai kapan pun dirinya tidak pernah merasa puas. Hawa nafsunya terasuki sifat tamak dan rakus. Walaupun gajinya sekian juta tiap bulannya, tapi sikap tamak pada dirinya itulah yang menjadikannya merasa bak orang melarat, miskin yang selalu mengemis.

Tentu berbeda halnya dengan seseorang yang Syâkir (bersyukur) dan Qanû` (orang yang menerima apa-adanya), berapapun kuantitas rizqi yang diperoleh, selalu ia sikapi dengan menghargai serta memanfaatkan dengan sebaik-baikya. Orang yang bersyukur, dengan beberapa lembar uang ribuan, ia memberi nafkah keluarganya mulai : sandang, papan, pangan. Dengan rezeqi yang cukup itu, ia ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan-Nya. Dengan begitu, ia telah menjadi orang “kaya” seketika itu pula.
Itu sebabnya, Nabi Muhammad saw bersabda :

لَيْسَ الغِنىَ بِكَثْرَةِ العَرَضِ إِنَّمَا الغِنىَ غِنىَ النَّفْسِ

“Kekayaan itu tidak terletak pada banyaknya harta, tapi ada pada kekayaan hati.”
Dalam haditsnya lainnya, Nabi saw juga berkata: “Tamak adalah penyakit yang menyebar.”
Pada prinsipnya, orang yang rakus, yang tidak memiliki rasa syukur, selalu berada dalam kemiskinan dan kekurangan. Kefakiran yang ia rasakan itu tidak perlu menunggu lenyapnya harta yang dimiliki. Cukup dengan ketamakan serta kerakusannya itulah yang akhirnya membawa dirinya dalam lembah kehinaan, kenistaan, dan kehilangan harga diri sebagai makhluk yang sempurna.
Renungkanlah ungkapan indah Nabi saw berikut ini :

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى الثَّالِثَ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ رواه احمد

“Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah (terisi) dari emas, pasti ia mengingkinkan lembah ketiga; tidak ada yang mengisi perut anak Adam kecuali tanah, serta Allah meneriman taubatnya orang yang mau kembali kepada-Nya.”
Demikian peringatan Nabi Muhammad guna membuat diri kita memiliki sikap Qanâ`ah. Sikap Qanâ`ah-lah yang membuat hati kita kaya akan rasa syukur. Dengan Qana`ah , maqam kita akan jauh melesat menuju maqam ridha, ridha dengan rezeki yang Allah bagikan kepadanya.
Dalam kaitan ini, perlu kita tahu bahwa segala sesuatu sudah ada ukuran dan porsinya, tak terkecuali dalam persoalan pembagian rezeqi. Setiap orang tak akan luput dari rezeqinya; tidak akan tertukar dengan lainnya. Karena itulah, qana`ah bisa menjadi tameng dari sikap rakus harta. Syarat utama seorang yang qanâ`ah rela dengan takdir Allah, rela dengan rezeki-Nya. Habib Abdullah Al Haddad bersyair :

إِنَّ القَناَعَةَ كَنْزٌ لَيْسَ بِالفاَنِيْ * فَاغْنَمْ هُدِيْتَ أُخَيَّ عَيْشَهَا الهَانِيْ

وَعِشْ قَنُوْعاً بِلاَ حِرْصٍ وَلاَ طَمَعٍ * تَعِشْ حَمِيْدًا رَفِيْعَ القَدْرِ وَالشَّأْنِ

Sikap Qana`ah adalah lumbung yang tak pernah ada habisnya
Hai saudaraku, manfaatkan hidup di dunia dengan sikap Qana`ah, niscaya kau terbimbing
Hiduplah sebagai seorang yang bersahaja tanpa rasa tamak dan rakus
Pasti engaku akan hidup dalam keadaam mulia

Di sisi lain, harta adalah kotoran. Anda membeli roti dan memakannya selang beberapa jam akan menjadi kotoran. Baju yang Anda kenakan saat ini mungkin tampak begitu indah, tapi siapa menyangka bahwa sepuluh tahun baju itu telah menjadi barang usang dan gombal. Tubuh yang Anda rawat dengan baik, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, namun ketika Anda mati menjadi bangkai yang dinikmati oleh cacing-cacing kuburan. Dunia adalah kotoran, seperti dikatakan bahwa “Barangsiapa tujuan hidupnya untuk dunia maka nilai orang tersebut sama dengan kotoran yang keluar dari perutnya.”
Dikisahkan, suatu kali imam Ali dan sahabat-sahabatnya berjalan dan melihat tumpukan sampah di salah satu sudut jalan. Di situ imam Ali berhenti dan berkata, “Inilah sampah bekas barang yang kemarin dibangga-banggakan oleh orang-orang.”
Masih dalam kaitan ini, pernah Rasulullah melihat bangkai kambing diseret oleh penduduk setempat untuk dibuang. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana pendapatmu tentang kambing ini?”
“Iya, wahai Rasul, begitu hinanya kambing ini sampai dibuang begitu saja.”
“Allah lebih jijik dengan dunia ini yang kehinaannya melebihi kambing bangkai tersebut,” kata Rasul.
Orang yang melarat adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Kala Anda menyantap tempe jangan berpikir makan sate tapi santaplah makanan sekelas tempe itu dengan memikirkan keadaan saudara-saudara Anda di kolong jembatan yang kadang kala tidak makan seharian penuh.

Qana`ah dan Ilmu
Penting pula untuk diketahui, bahwa sikap Qanâ`ah akan lahir bila kita membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu dicari untuk diamalkan, sebagaimana pena yang dibeli digunakan untuk mencatat atau cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah, seperti itulah ilmu, ia berfungsi sebagai alat untuk beramal kebajikan. Tidak perlu banyak ilmu yang terpenting bisa termafaatkan. Kata Nabi saw : “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan berikan ilmu yang tidak ia ketahui.”
Misal ilmu yang bermanfaat, bahwa Anda tahu keutamaan shalat berjamaah, maka setiap waktu Anda melaksanakan shalat secara berjamaah. Anda tahu dosa berbohong, maka jangan sampai Anda berbohong. Indikasi ketidakmanfaatan ilmu adalah bahwa tindak-tanduk Anda bertentangan dan berlawanan dengan ilmu yang Anda pelajari. Anda tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi lisan Anda “basah” dengan dusta dan kebohongan.
Ilmu tidak sama dengan harta. Allah memberi kita ilmu guna dikerjakan, diajarkan, di situlah Allah akan memberi bonus. Namun berbeda halnya dengan harta. Anda punya uang lima ribu lalu anda sedekahkan dua ribu sisanya tiga ribu. Ilmu semakin bertambah jika disedekahkan sedang harta justru menyusut jika diinfakkan.
Seorang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya justru menjadi perusak bak pengembala kambing ditugaskan untuk menjaga domba piaraan agar tidak tersesat atau terjatuh ke jurang. Tentunya beda dengan pengembala yang jahat, ia justru menjadi sumber kecelakaan bagi domba-domba itu sendiri seperti ilustrasi kata bijak

وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْميِ الذِّئْبَ عَنْهَا ، فَكَيْفَ إِذاَ الرُّعاَةُ لَهَا ذِئاَبُ

“Seorang pengembala kambing (bertugas) menjaga kambing dari sergapan serigala namun bagaimana halnya bila ternyata pengembala itu sendiri adalah serigala? .”
Ulama yang hidup di masyarakat, tugasnya melindungi masyarakat dari kemunkaran dan kerusakan akhlaq. Ironisnya, tidak sedikit di antara para ulama yang akhlaqnya seperti Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, mereka bercirikhaskan

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al Baqarah [02]:44)
Ayat di atas menceritakan sikap orang-orang Yahudi dan ternyata banyak dari kalangan orang-orang berilmu yang bersikap demikian pula. Akibat dari sikapnya itu, kaum Yahudi dan kaum Nashrani bertengger dalam kehinaan dan keburukan. Sebab mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahui. Kebenaran yang diperoleh bukan diamalkan malah diingkari. Jadilah mereka kaum yang hina.

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagaian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Qs. Al Baqarah [02]: 146)

Khasiat “Magis” Istighfar

Kalam Habib Umar bin Segaf as-Segaf as-Shofi

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

“Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

“Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.”

“Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.”

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Kalam-kalam Habib Umar benar adanya. Kita perlu memaknainya dengan bijak. Barangkali, berondongan musibah yang mendera tanah tumpah darah kita ini adalah getah dari perbuatan kita sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi?

Sejatinya, kita membutuhkan figur Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Tapi, mengharap sosok Umar, di era seporak-poranda kini, ibarat kerdil merindukan bulan, Sia-sia saja. Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.

Jumat, 06 Agustus 2010

Hukum Meninggalkan Puasa Karena Suntik dan Infus???

Assalamu'alaikum.. Ustadz A.Khudori Yusuf... saya mau tanya bagaimana hukum puasanya seseorang yg : 1.Di Suntik 2.Di Infus 3.Di Bekam Mohon dijelaskan dan kalau imkan sekalian dengan Referensinya sebelumnya saya ucapaka terimaksih banyak.Jazakallah ahsanal jaza.amin
Wassalamualaikum.Muhammad Aly Sholahudin..Bandung




Jawab:
Waalaikumussalam Wr.Wb

Puasa wajib boleh ditinggalkan karena sakit atau menyebabkan sakit.

Adapun hukum suntik,infus dan bekam bagi orang yang berpuasa, maka boleh jika dalam keadaan darurat. Namun ulama’ berbeda pendapat dalam masalah suntik membatalkan puasa atau tidak ?

  • Pendapat pertama : Membatalkan secara mutlak. Karena sampai ke dalam tubuh.
  • Pendapat kedua : Tidak membatalkan secara mutlak. Karena sampainya ke dalam tubuh bukan melalui lubang yang terbuka
  • Pendapat ketiga : diperinci sebagai berikut :

1. Jika suntikan tersebut berisi suplemen, sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin, maka membatalkan puasa. Karena ia membawa makanan yang dibutuhkan ke dalam tubuh.

2. Jika tidak mengandung suplemen (hanya berisi obat), maka diperinci :

a. Apabila disuntikkan lewat pembuluh darah maka membatalkan puasa.

b. Disuntikkan lewat urat-urat yang tidak berongga maka tidak membatalkan puasa.

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 274)

فصل في مبيحات الفطر في رمضان وأحكامه : فالمرض والسفر مبيحان بالنص والاجماع كان مقيما صحيح البدن ثم شرط كون المرض مبيحا أن يجهده الصوم معه فيلحقه ضرر يشق احتماله على ما ذكرنا من وجوه المضار في التيمم. ثم المرض إن كان مطبقا فله ترك النية بالليل وإن كان يحم وينقطع نظر إن كان محموما وقت الشروع فله ترك النية وإلا فعليه أن ينوي من الليل ثم إن عاد واحتاج إلى الافطار أفطر وشرط كون السفر مبيحا كونه طويلا ومباحا ولو أصبح صائما ثم مرض في أثناء النهار فله الفطر ولو أصبح مقيما صائما ثم سافر لم يجز له فطر ذلك اليوم وقال المزني يجوز وبه قال غيره من أصحابنا.

التقريرات السديدة / 452

حكم الإبرة : تجوز للضرورةو ولكن اختلفوا في ابطالها للصوم على ثلاث اقوال :

  1. 1. ففي قول : انها تبطل مطلقا لأنها وصلت الى الجوف.

  2. 2. وفي قول : انها لا تبطل مطلقا ، لأنها وصلت الى الجوف من غير منفذ مفتوح.

  3. 3. وقول فيه تفصيل – وهو الأصح- : اذا كانت مغذية فتبطل الصوم, واذا كانت غير مغذية فننظر : اذا كان في العروق المجوفة-وهي الأوردة- : فتبطل، واذا كان في العضل – وهي العروق غير المجوفة – فلا تبطل.


Kamis, 05 Agustus 2010

Shalatku Penyejuk Sukmaku

Dapatlah kiranya kita bayangkan betapa indahnya sholat yang dilakukan Rasul dalam hidupnya sehingga beliau pernah berkata, ”Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam sholat.”

Sholat seorang muslim yang diawali dengan mengambil air wudlu yang benar dan menghadapkan hati dan tubuhnya ke hadirat Allah semata, seharusnya memang menjadi penyejuk sukma yang tiada bandingnya. Ketika takbir diucapkan, seisi dunia ini menjadi kecil dan tiada berarti lagi, sebab yang besar dan patut dipuja, tempat bersandar dan meminta pertolongan dan petunjuk hanyalah Allah semata.

Di dalam rukun Islam sholat ditempatkan pada urutan kedua setelah kalimat syahadat. Ini menjadi bukti betapa luhur dan agungnya kedudukan ibadah yang satu ini. Sholat adalah komunikasi langsung seorang muslim dengan Allah. Betapa tidak, sholat penuh dengan pengakuan segala kebesaran Allah. Sholat sarat dengan doa dan permohonan. Sholat juga merupakan perwujudan sikap rendah diri manusia terhadap sang Khalik. Ketika dahi ditempelkan diatas sajadah, setiap muslim menyadari betapa kecil dan tiada berartinya manusia ini dihadapan Yang Maha Kuasa.

Perintah sholat diturunkan melalui proses dan kejadian yang istimewa. Dibandingkan dengan perintah peribadatan yang lain seperti puasa dan zakat, kewajiban melaksanakan sholat diterima Rasul melalui misi perjalanan Isra’ dan M’iraj yang penuh keajaiban. Ini memberikan suatu petunjuk bahwa sholat memang memiliki kedudukan yang teramat khusus di hadapan Allah. Maka tidaklah mengherankan apabila peribadatan yang satu ini sama sekali tidak berpeluang untuk ditinggalkan dan tetap harus dijalankan sekali pun hanya dengan gerakan mata.

Maka sungguh beruntung orang-orang yang tekun menjaga dan mendirikan sholatnya. Di dalam surat Al Mu’minuun ayat 1 dan 2 Allah memuji orang-orang mukmin,

”Beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.” Khusyuk dalam surat ini merupakan penjelasan Allah bahwa seorang mukmin yang berbahagia adalah orang-orang yang tatkala sholat selalu mengingat Allah, memusatkan semua pikiran dan panca inderanya serta bermunajat kepada Allah. Orang-orang ini menyadari dan merasakan bahwa ketika sholat, mereka benar-benar sedang berhadapan dengan Tuhannya. Maka oleh karena itu seluruh badan dan jiwanya diliputi kekhusyukan, kekhidmatan dan keikhlasan, disertai dengan rasa takut dan diselubungi dengan penuh harapan.

Untuk dapat memenuhi syarat kekhusyukan ini ada tiga perkara yang harus dipenuhi oleh seorang yang sedang sholat :

Yang pertama adalah mengerti tentang apa yang sedang dia baca. Ini sesuai dengan ayat,

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad : 24)

Yang kedua adalah ingat kepada Allah dan takut kepada ancamanNya, sesuai dengan firmanNya,

”Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha : 14)

Yang ketiga, karena sholat berarti bermunajat kepada Allah, maka pikiran dan perasaan harus selalu mengingat dan tidak lengah atau lalai. Sekali pun ketidak-khusyukan seseorang di dalam sholatnya tidak akan membatalkan sholat ini, namun para ulama menggambarkan sholat seperti ini laksana tubuh yang tidak berjiwa.

Selain menjadi alat komunikasi dan pendekatan yang utama, sholat seyogyanya juga menjadi benteng yang paling kokoh di dalam menjaga seseorang dari segala perbuatan dosa dan munkar. Sholat yang dilakukan dengan benar dan penuh khidmat semata karena Allah, pasti akan menjaga kadar iman seseorang menuju mukmin hakiki. Ada orang yang berkata bahwa sholat seseorang tidak merupakan jaminan perilakunya. Permasalahannya adalah kualitas sholat ini. Orang yang masih suka berdusta atau mengambil hak orang lain sementara dia juga melakukan sholat, perlu dikaji lebih jauh kadar kualitas sholatnya. Perhatikan petunjuk Allah dalam surat Al-Ankabuut ayat 45,

”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur’an dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat di atas memerintahkan Rasul agar selalu membaca, mempelajari dan memahami Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, ia akan mengetahui kelemahan dan rahasia dirinya sehingga ia pun dapat memperbaiki serta membina dirinya sesuai dengan tuntunanNya. Perintah ini juga ditujukan kepada seluruh kaum muslimin. Penghayatan seseorang terhadap kalam Ilahi yang pernah dibacanya itu akan termanifestasi pada sikap, tingkah laku dan budi pekerti orang yang membacanya.

Setelah Allah memerintahkan membaca dan mempelajari serta melaksanakan ajaran-ajaran Al-Qur’an, maka Allah memerintahkan pula agar kaum muslimin mengerjakan sholat wajib lima waktu. Sholat ini hendaklah dikerjakan dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya serta dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan. Sangat dianjurkan pula agar sholat dikerjakan lengkap dengan sunnah-sunnahnya. Jika sholat dikerjakan sedemikian rupa, maka ia akan dapat menghalangi dan mencegah orang dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar.

Ketika seseorang berdiri mengerjakan sholat, ia pun memohon petunjuk Allah dengan doanya, ”Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atau orang-orang yang sesat.” Ini adalah perwujudan dari keyakinan orang yang melaksanakan sholat dan menjadi bukti bahwa dirinya sangat bergantung kepada nikmat Allah. Oleh karena itu, ia pun berusaha sebisa mungkin untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya.

Sebagian Ahli tafsir berpendapat bahwa yang memelihara orang yang mengerjakan sholat dari perbuatan keji dan munkar adalah sholat itu sendiri. Artinya, selama orang ini memelihara sholatnya, maka sholat ini akan senantiasa memeliharanya. Perhatikan peringatan Allah dalam Al-Baqarah 233

: ”Peliharalah semua sholatmu dan sholat wustha. Berdirilah di dalam sholatmu karena Allah dengan khusyuk.”

Di dalam salah satu sabdanya, Rasul berkata : ”Barang siapa yang memelihara sholat, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan barang siapa yang tidak memeliharanya, ia tidak akan memperoleh cahaya, petunjuk dan tidak pula keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubai bin Khalaf.” Nabi menerangkan pula bagaimana orang-orang yang mengerjakan sholat lima waktu dengan sungguh-sungguh disertai rukun dan syarat-syaratnya serta dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Nabi melukiskan orang-orang ini seakan dosa mereka dicuci lima kali sehari sehingga tidak sedikit pun yang akan tertinggal dari dosa-dosa ini. Bahkan Rasul menggambarkan sungai di depan pintu rumah dimana orang-orang ini mandi dan membersihkan tubuh mereka lima kali sehari sehingga tak akan tersisa lagi pada tubuh mereka itu daki dan kotoran.

Ketika kita mencita-citakan sesuatu yang berarti dalam hidup kita, biasanya kita bersedia mengorbankan banyak hal untuk mencapai keinginan kita itu. Kita tahu, semua pengorbanan dan jerih payah yang kita lakukan, kelak akan memberikan suatu kebahagiaan dan kepuasan. Sholat yang kita lakukan sepanjang usia kita merupakan sarana pendekatan diri kepada Allah yang tiada bandingnya. Ada kalanya mungkin terasa berat sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Baqarah 45, ”Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mengerjakan sholat. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Namun, dibalik yang terasa berat ini terdapat jalan menuju cita-cita yang demikian luhurnya dan jauh tiada berbanding dengan rasa enggan dan pengorbanan kita.

Sholat adalah ibadah yang sangat utama dimana seorang muslim bermunajat kepada Allah lima kali dalam sehari. Menurut riwayat Imam Ahmad, setiap kali Rasul menghadapi kesulitan dan musibah, beliau segera melakukan sholat. Demikian pula yang dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau. Sabda Rasul yang saya kutipkan diawal tulisan ini menjadi bukti betapa kecintaan, kedekatan dan kesetiaan beliau kepada sholat. Kedua kaki beliau yang mulia itu bahkan sempat membengkak karena lamanya beliau berdiri ketika sholat.

Kalau tadi saya menggambarkan bagaimana seseorang berusaha dengan segala daya untuk meraih cita-cita dalam hidupnya, maka yang ingin diraih oleh orang-orang yang khusyuk dalam sholat adalah keridhaan Allah. Bagi orang-orang ini, mendirikan sholat tidaklah dirasakan berat, sebab pada saat-saat begitu mereka seolah hanyut dan tenggelam di dalam munajat mereka sehingga tiadalah mereka merasakan dan mengingat yang lain, termasuk di dalamnya segala kesukaran dan penderitaan hidup yang mereka alami. Hal ini tidaklah membuat kita heran sebab barangsiapa yang mengetahui hakikat apa yang dicarinya, niscaya ringan baginya mengorbankan apa saja untuk memperolehnya.

Sholat juga berperan sebagai pembentuk akhlak manusia. Di dalam surat Al-Maarij ayat 20-22 Allah melukiskan sifat-sifat manusia yang manakala tertimpa kesusahan berkeluh kesah dan ketika memperoleh kebaikan menjadi kikir. Perkecualiannya hanyalah orang-orang yang melaksanakan sholat dengan khusyuk. Sebagai rukun Islam yang kedua, sholat menjadi pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir. Orang yang senantiasa melakukan sholat akan selalu terikat hubungan dan ingat kepada Tuhannya. Sebaliknya, mereka yang lalai kepada sholat, akan putuslah hubungannya dengan Allah. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah.

”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha : 14)

”Kecuali orang-orang yang melakukan sholat” sebagaimana terfirman dalam surat Al-Maarij diatas adalah suatu label istimewa yang diberikan Allah. Namun ayat ini tidak berakhir disini, sebab kemudian Allah memberikan ciri bagi mereka itu, yaitu orang-orang yang ketika sholat, mereka melakukannya dengan penuh kekhusyukan. Orang yang khusyuk dalam sholatnya, hati dan pikirannya akan tertuju kepada Allah. Timbul dalam hatinya rasa takut terhadap siksa Allah karena menyadari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Ia pun penuh berharap agar limpahan pahala, rahmat dan karuniaNya tercurah kepadanya. Kekhusyukan sholat ini seakan menanamkan janji di dalam hatinya untuk menjauhi larangan-larangan Allah. Hatinya pasrah dan tenteram penuh tawakkal. Orang-orang yang mengerjakan sholat sedemikian ini akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.

Sholat juga mendidik kita menjaga disiplin diri. Waktu-waktu sholat yang telah tertentu lima kali dalam sehari adalah tindakan ubudiyah yang kalau dilaksanakan dengan baik akan menanamkan disiplin yang tinggi. Ketentuan melakukan sholat lima kali dalam sehari pada waktu-waktu yang sudah ditentukan merupakan perintah Ilahiah yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Pelaksanaan perintah Allah pada waktu-waktu yang sudah ditentukan ini menanamkan sikap disiplin pada diri setiap muslim di dalam menjalankan kewajiban sehari-hari. Amati isyarat Allah dalam Al-Isra’ 78 :

”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh para malaikat.”

Ayat diatas menerangkan waktu-waktu sholat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu sholat zuhur dan asyar, gelap malam untuk waktu maghrib dan isya’. Ayat ini memerintahkan agar Rasul mendirikan sholat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam serta mendirikan sholat subuh. Maksudnya ialah mendirikan sholat lima waktu yakni Zuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan Subuh pada waktu yang telah ditentukan.

Mendirikan sholat lima waktu berarti mengerjakan sholat lengkap dengan rukun dan syarat-syaratnya sesuai dengan ygn diperintahkan Allah, baik menurut lahir ataupun batin. Secara lahir berarti sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan agama, dan secara batin berarti mengerjakan sholat dengan hati, tunduk dan patuh kepada Allah karena menyadari keagungan dan kekuasaan Allah, pencipta seluruh alam ini.

Berbicara tentang ibadah sholat yang teramat luhur ini, teringatlah kita pada salah satu sholat yang demikian besar artinya yaitu sholat Jum’at yang wajib hukumnya dilaksanakan sekali dalam seminggu. Selain diisi dengan sholat Jum’at berjamaah, kegiatan ini juga diisi khutbah Jum’at yang sarat dengan wasiat taqwa dan doa. Betapa pentingnya sholat ini sehingga tatkala waktunya telah tiba, Allah memerintahkan kita meninggalkan semua kegiatan dan menyegerakan diri menuju dzikrullah.

Tak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan kita meninggalkan kegiatan mulia ini kecuali yang sudah ditentukan seperti hujan atau sakit. Kita diberi Allah kenikmatan tak terhitung dalam hidup ini sementara yang diwajibkan untuk kita laksanakan tidaklah banyak. Di dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9 Allah berseru,

”Wahai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual- beli karena yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Seruan Allah ini jelas ditujukan kepada kelompok orang-orang beriman. Saya yakin, tak seorang pun diantara kita, yang ketika mendengar seruan ini, merasa tidak termasuk orang-orang beriman yang sedang mendapat seruan

Hikmah Shalat Subuh

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

Disarikan dari :
Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani